Selasa, 17 Desember 2019

PENGERTIAN TASAWUF DALAM AGAMA ISLAM

Istilah tasawuf tidak dikenal pada masa kehidupan Nabi dan
Khulafaur Rasyidin. Istilah itu baru muncul ketika Abu Hasyim al-
Kufy (w. 250 H) meletakkan kata al-Sufi dibelakang namannya pada
abad ke 3 Hijriyah. Menurut Nicholson, sebagaimana yang dikutip
oleh Amin Syukur, sebelum Abu Hasyim al-Kufy telah ada ahli yang
mendahuluinya dalam zuhud, tawakkal, dan dalam mahabbah, namun
mereka tidak menggunakan atau mencantumkan kata al-sufi. Jadi tetap
Abu Hasyim orang yang pertama memunculkan istilah itu.2
Secara etimologi, para ahli berbeda pendapat tentang akar kata
tasawuf. Setidaknya ada ada enam pendapat dalam hal itu, yakni: (1)
kata suffah yang berarti emperan masjid Nabawi yang didiami oleh
sebagian sahabat Anshar. Hal ini karena amaliah ahli tasawuf hampir
sama dengan apa yang diamalkan oleh para sahabat tersebut, yakni
mendekatkan diri kepada Allah Swt., dan hidup dalam kesederhanaan.3
(2) kata Shaf yang berarti barisan. Istilah ini dianggap oleh sebagian
ahli sebagai akar kata tasawuf karena ahli tasawuf ialah seorang atau
sekelompok orang yang membersihkan hati, sehingga mereka diharapkan berada pada barisan (shaf) pertama di sisi Allah Swt. (3)
kata shafa yang berarti bersih, karena ahli tasawuf berusaha untuk
membersihkan jiwa mereka guna mendekatkan diri kepada Allah Swt.
(4) kata shufanah, nama sebuah kayu yang bertahan tumbuh di padang
pasir. Hal ini karena ajaran tasawuf mampu bertahan dalam situasi
yang penuh pergolakan ketika itu, ketika umat muslim terbuai oleh
materialisme dan kekuasaan, sebagaimana kayu shufanah yang tahan
hidup ditengah-tengah padang pasir yang tandus. (5) Kata Teoshofi,
bahasa Yunani yang berarti ilmu ketuhanan, karena tasawuf banyak
membahas tentang ketuhanan. (6) kata shuf yang berarti bulu domba,
karena para ahli tasawuf pada masa awal memakai pakaian sederhana
yang terbuat dari kulit atau bulu domba (wol).4
Perbedaan pendapat ini, jika diteliti muncul karena adanya
perbedaan sudut pandang yang dipakai. Bagi penulis, perbedaan
tersebut tidak menjadi problem, sebab ciri-ciri yang dijadikan landasan
pengkaitan akar kata tasawuf di atas semuanya terdapat pada tasawuf
itu sendiri. Meski demikian, penulis lebih setuju dengan pendapat yang
ke-enam, yakni tasawuf berakar dari kata shuf (wol). Hal ini karena kata
tersebut lebih tepat baik dilihat dari konteks kebahasaan, sikap
kesederhanaan, maupun aspek kesejarahan.
Dari segi kebahasaan, tasawuf adalah masdar bentuk ke-5 ( )
5
dari kata dasar s-w-f ( ) yang mengindikasikan tempat pertama
orang yang menggunakan wol (shuf). Lalu orang yang melakukannya
disebut shufi atau mutashawwifun (Isim Fa‟il bentuk ke-5). 6